• Twitter
  • Technocrati
  • stumbleupon
  • flickr
  • digg
  • youtube
  • facebook

Follow our Network

Surat Cinta Untuk Abah Di Surga

0

Label:

selaksa do'a penuh cinta utk abah di surga
dari kakak, adek, amak. we love you dad

abah
sekarang sudah tahun 2011 atau 1432 H, tepat 10 tahun abah meninggalkan kami untuk memenuhi panggilan Rabb yang kami cintai, yang di tangan-Nya kekuasaan atas diri ini berada dan tempat dimana belas kasih dan harapan di gantungkan.

abahku sayang
semoga abah disana baik-baik. abah! amak titip salam, salam rindu katanya, sudah aku sertakan bingkisan air mata rasa cinta juga dari amak. semoga abah senang mendengarnya. cahaya-Nya semakin terang menerangi langkah abah disana. amin

oya bah adek juga titip salam, salam cling-cling. kemarin sempet nanya ma kakak,  buru-buru soalnya mau balik ke pondok, maklum bah waktu itu hari terakhir liburan, jadi harus cepet-cepet balik.
"kak ada foto abah yang itu dimana yahh? mau aku bawa, nanti pas aku kagen abah atau pas aku sedih, lihat foto abah yang itu pasti aku kembali bahagia setidaknya akau bisa tersenyum lihat foto abah"
tambah adek lagi, "soalnya foto abah yang itu senyumnya manis sih.., 'cling-cling'..hehe"
itu loh bah, foto waktu abah masih pake gigi perak, itu kan abah pas ketawa, jadi pas kena bliz foto ya.. cling-cling hehe. adek suka sama foto itu bah. katanya abah lucu pas di foto, gigi peraknya itu loh.

kalau kakak mah lebih suka foto waktu abah foto bareng amak. waktu itu kakak kan mau foto abah sama amak trus kakak bilang "bah, tangan amak di pegang dong biar tambah mesra"
lihat abah yang jadi cilang-cilung, malah membuat kami berlima ketawa-ketiwi he, masa dah hampir 30 tahun menikah abah masih malu-malu megang tanga amak ish..ish..ish (ini niru gaya upin-ipin bah, itu kartun anak yang sekarang lagi naik daun).

kakak juga sih, masih suka godain abah sama amak, tapi pun begitu fotonya tetep bagus kok. tapi ada yang lebih bagus bah, lebih istimewa, kenangan yang tersimpan didalam foto itu. sangat berharga bah. tapi sayang fotonya ba'da kejadian itu ndak tahu ada dimana, afwan ya bah, tapi walaupun begitu kenangan itu akan tetap terdokumentasikan dengan baik di hati kami, putra-putri abah dan amak yang manis-manis (itu kata tetangga-tetangga kita dulu).

abahku sayang
Alhamdulillah adek masih bisa sekolah, sekarang kelas 2 KMI di salah satu pondok putri di solo, adek dah remaja lho bah, dah 17 tahun. InsyaAllah tentang adek lain kali aku ceritakan deh bah.
sekarang aku ingin berbagi cerita dengan abah, cerita roda kehidupan keluarga kita setelah abah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. roda kehidupan yang sering abah bicarakan.

abahku sayang
semoga abah selalu dalam lindungan Allah. betul kata  abah dulu, kalau kehidupan itu bagaikan roda yang berputar kadang dia di atas kadang juga dia dibawah. sambil becerita tentang hidup abah, yang dulunya anak petani, ndak tamat SD, menjadi orang yang seperti sekarang ini, abah yang sangat aku banggakan.  

ini tentang kenangan beberapa tahun setelah abah pergi, pergi untuk selamnya.
setelah kepergian abah. keluarga kita serasa berbeda, tidak hanay berbeda dengan tidak adanya sosok abah disana, tapi semua berubah, semuanya bah, dari punya apa-apa sampai tidak punya apa-apa.

abah pergi terlalu cepat, kakak masih terlalu muda untuk menggantikan abah mengurusi binis keluarga, apalagi kami waktu itu masih duduk di bangku SMP, jadi sama sekali belum ngerti tentang bisnis. di tambah krisis ekonomi yang melanda negeri kita, yang membuat banyak pengusaha gulung tikar. -ini aku tahu saat aku sudah dewasa, setelah membaca banyak artikel dan literatur tentang "tragedi '98"-.

abah pasti sudah bisa menebak cerita kelanjutan bisnis keluarga kita, iya bah, akhirnya kakak hanya mampu bertahan tiga (3) tahun, setelah itu semuanya abis bah, hanya tinggal kenagan yang indah dan beberapa petak tanah, yang terakhir ini mati-matian amak pertahankan.

"ini tidak boleh dijual, pokoknya tidak boleh, kalau ini di jual adek-adek kamu dapat apa" kata amak pada kakak sambil nangis, baru kali ini saya lihat amak nangis sedemikian hebat. akhir-akhir ini banyak orang datang menagih hutang, saluran telepon terpasak di putus, karena setiap kali ada telpon pasti orang yang mau nagih hutang. dan sekali lagi amak pasti nangis.
"kalau abahmu masih hidup, tidak mungkin jadi seperti ini.. kata-kata orang tua itu mbok di dengar to le le..., apa sudah tidak kau anggap amak ini sebagai amak kamu? ato sebaiknya amak nyusul abah saja? biar sekalian, kalian tidak punya amak dan abah" masih dengan ar mata yang terus keluar, tidak tau bah waktu itu rasanya ada yang begitu menyesakkan di sini, si dalam sini bah, ada yang menyesak, mendesak ingin keluar, maaf bah -ini pun belum aku mengerti-, tiba-tiba pipiku sudah basah, basah oleh air mata.

waktu itu amak menggangap semua karena kesalahan kakak, kakak di nilai terlalu baik bahkan terkesan ngawur untuk usia bisnis yang masih bau kencur,-ini pun aku pahami saat aku dewasa yang sedikit mengerti tentang dunia bisnis-. mafkan saya bah waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sdang terjadi, tidak mampu memberi masukan apapun, apalagi adek waktu itu umurnya baru 9 tahun, mana ngerti dunia bisnis.

semua berawal dari sebuah spekulasi yang kakak lakukan. -kalau saya menyebutnya "spekulasi untuk kebaikan"-, jadi kakak memberi barang daganggan kepada beberapa orang, tidak beberapa orang sih bah, soalnya ada keponakan abah, mantan karyawan abah dan beberapa orang baru. niatnya baik agar mereka punya kerjaan, dan kakak juga punya daerah pemasaran baru. hampir semua kakak yang modalin.

awalnya berjalan lancar, tapi kira 1,5 tahun kemudian ada pemain baru, tetangga kita juga bah, tapi kondisi keuangannya jauh lebih baik dari pada kondisi kita saat itu. cara instan, yang mereka terapkan untuk merebut pasar adalah 'jual rugi'. entahlah bah sistem ini ada gak di bangku kuliah, tapi yang jelas kalau di lapangan sistem ini ada, apalagi untuk jenis usaha yang keluarga kita lakukan, sangat efekstif, walaupun tetap penuh resiko. jadi mereka menjual barang yang sama kualitasnya, tapi dengan harga yang segaja dirugikan, kekuatan utama adalah modal, tujuan utama adalah menguasai pasar, jadi pemain tunggal.

disinilah kesalahannya bah. ini pun aku tahu setelah aku dewasa, -dan bukan sempurna sebuah kesalahan, itu menurutku-. kakak tidak ridho kalau pasar yang dibangunnya dengan waktu dan cara baik-baik harus hilang dengan cara yang semacam itu.

yang ini abahpun bisa tebak cerita kelanjutannya, iya bah akhirnya kakak kalah, -perlawanannya sudah maksimal bah-, kakak kalah modal, kakak kalah pengalaman, kakak dengan tidak adil, itu menurutku bah, tapi sekali lagi waktu itu kakak masih anak kemarin sore dalam bisnis keluarga kita.
abahku sayang

abah tahu, saat itulah saya merasa keluarga kita berada di sisi roda kehidupan bagian bawah, bawah yang paling bawah bah. masa-masa yang paling sulit, masa-masa penuh air mata. berat bah...
sejak usaha keluarga kita bangkrut, dan utang keluarga menupuk. setiap saat, bahkan hampir tiap hari orang datang untuk menagih hutang. semestinya bisa dengan menjual beberapa petak tanah untuk melunasi utang keluarga kita, tapi amak tidak mengizinkan. mungkin amak berpikir, itu satu-satu peninggalan abah untuk adek-adek yang masih kecil.

abahku sayang
maaf bah bagian ini baru sekarang saya ceritakan, empat tahun setelah kepergian abah selama itu pula, kita hampir tidak pernah lagi melihat amak tersenyum, senyum yang penuh kesejukkan itu hilang bah, amak lebih banyak menangis, merenung, menangis. tidak hanya itu bah amak, malaikat kami yang penuh kelembutan itu berubah menjadi pemarah, marah tanpa alasan yang dapat kami mengerti.

rumah yang dulu seperti surga, sekarang seperti rumah kosong yang jauh dari aroma canda kehidupan, rumah kita jadi panas, pengap, hanya kenangan-kenangan indah waktu kita masih bersama dulu sesekali menghadirkan hawa sejuk. itupun hanya sebentar. segera terhapus oleh amarah amak, atau kalau tidak terhapus oleh tangisan amak.

pernah waktu itu adek mau berangkat ngaji, saat itu adek masih duduk di bangku SD, saya SMA bah.  seperti biasa bah, setiap sore saya yang mengantar adek pergi mengaji. entah kenapa adek tiba-tiba keluar rumah sambil menangis, sampai-sampai susah sekali untuk bernafas.

"adek kakak yang cantik kok nangis kenapa?" sebetulnya saya tahu bah, kalau adek habis dimarahi amak. segaja, sedih bah rasanya melihat adek yang sekecil itu ikut menanggung beban hidup keluarga kita.
"tadi adek mau minta uang saku buat jajan kak. tapi ndak tau, trus tiba-tiba amak marah "minta uang saja bisanya", sambil bentak adek" sesenggukan adek bercerita
"trus di kasih sama amak"
"di kasih kak, Rp 300" sambil menunjukkan tiga uang receh pecahan seratusan kepada saya. sedih banget bah, mau nagis bah sebetulnya, tapi saya tahan -saya harus lebih siap dari pada adek-adek, itu pikir saya. hanya gara-gara uang tiga ratus perak, tiga ratus perak bah. setelah abah pergi amak betul-betul berubah. bahkan untuk alasan yang benar-pun amak masih marah-marah.
"ya sudah, mungkin amak betul-betul ndak punya uang, adek nanti ndak usah jajan dulu yah. uangnya dikasih ke amak lagi aja" adek ndak jawab bah adek cuma nganguk, sambil menyerahkan uangnya ke saya. abah harus bangga, malaikat kecil kita "terpaksa" mengerti kondisi keluarga kita, masih kecil bah. -dalam hati saya berfikir kali ini amak sudah kelewatan- nanti setelah mengantar adek, akan saya tanyakan ini sama amak. saya menyimpan rasa kecewa yang amat besar pada amak, tentu saja tidak saya perlihatkan di depan adek.

Alhamdulillah, adek sudah lebih tenang, setelah itu saya anter naik sepeda ke masjid tengah desa, tempat biasa dia ngaji.

abahku sayang
afwan bah, saya khilaf..
setelah pulang saya langsung menemui amak
"amak!! ini uang amak, kalau amak ndak mau ngasih, ndak usah marahin adek, adek juga bisa kok ndak jajan" sekali lagi afwan bah saya khilaf, saya bentak amak, sambil gebrak meja,
uang 300 saya lempar, sambil nagis bah, ndak tau rasanya semua campur jadi satu, sedih, marah, sakit, kecewa. tidak tahu bah rasanya tidak sanggup lagi menahan, semua keluar begitu saja. aku lihat amakpun menangis, akupun sedih bah melihat amak menangis. sedih.

setelah kejadian itu rasanya ingin pergi dari rumah bah, pergi entah kemana, pokoknya pergi jauh dari rumah. waktu itu yang tinggal dirumah hanya amak, saya, dan adek-adek. kakak tinggal di rumah mertuannya, kakak yang satunya lagi ikut pak lek kerja di luar kota.

saat itu pula kaki ini terasa kaku untuk pergi dari rumah, inget adek bah, kalau saya pergi bagaimana adek nanti, ndak tega bah gmn nanti kalu amak marah lagi, kasihan sama adek.
Alhamdulillah, saya bisa dipaksa untuk dewasa bah, walau hampir tiap hari lihat amat marah trus suatu saat nangis. begitu hari-hari kami lalui tanpa abah disana. berat bah, tapi harus tahan.

abahku sayang
kekuatan untuk tetep bertahanpun aku dapatkan dari abah
"semua boleh hilang, tapi senyum jangan sampai ia hilang walaupun ia hanya tinggal sisa di hati saja, karena senyum adalah titik awal dimana semua cerita kebahagiaan itu berasal"
abah tidak pernah mengatakan ini, tapi inilah teladan yang secara tidak langsung abah ajarkan pada kami, putra-putri abah. terimaksih abahku sayang.

 kami akan selalu sayang sama abah sama amak adek juga, semuanya. nanti aku ceritakan, bagaimana senyum malaikat kelembutan kami itu kembali, senyum amak untuk pertama kalinya setelah sekian tahun abah tiada.

abah
abah sekian dulu surat cinta kami
kami sayang sekali sama abah
abah betul roda kehidupan itu berputar
sedemikian roda keluarga kita bah
sudah bergerak sedikit keatas.
abah
salam berjuta rasa rindu
salam air mata rasa cinta dari amak
semoga abah selalu dalam rahmat Allah


Allah sayangilah abah sebagaimana abah menyayangi kami semua

semarang, 19 Januari 2011
salleum sami

Comments (0)

Posting Komentar

Tafadhal for give comment